Rasa Hati

kupandangi langit malam ini
kelabu...seperti hatiku
kulihat jalan dari berandaku
sepi, kosong...seperti hatiku
kurasakan angin malam
dingin...seperti hatimu

Mesin Waktu .. Hehehehehe

Kemarin sore, di dalam percakapan di kubus maya, antara saya dan seorang teman, tiba-tiba kata itu muncul …mesin waktu

Teman saya, seorang programmer dengan selera humor yang teramat sangat baik itu berujar;
dia (18:01:07) : kalo ada mesin waktu gua pengen kembali ke masa-masa ada nenek gua
dia (18:01:26): kayaknya tentram kalo udah nyampe rumah dia

Dan saya terdiam sejenak, mencoba mengumpulkan serpihan ingatan.
Beberapa bulan lalu, saya sempat berkunjung ke kota di mana ia tinggal. Kami bertemu dan bertukar tutur hingga dini hari.

Di sela-sela percakapan, beberapa kali saya dengar teman saya ini bercerita tentang nenek. Bukan obrolan yang membosankan, karena ia punya segudang gaya cerita yang bisa membuat saya terpingkal-pingkal. Menyenangkan. Cerita tentang perempuan pembawa damai yang disapa nenek itu kembali hadir dari teman saya, si programmer yang cerdas, sore itu, saat kami tiba di obrolan tentang mesin waktu. MESIN WAKTU
Apa yang akan kalian lakukan kalau perangkat ini benar ada?

Kalau saya, saya hanya ingin mesin ini mengantarkan saya ke satu masa. Saat-saat terbaik yang pernah datang dalam hidup. Kota kecil, dengan segala ketenangannya dan kedamaiannya, bunga kuning kecil luruh dari pokok pohon, terjaga dari tidur pagi dengan rasa kangen, nyanyian nina bobo itu, waktu dimana tak pernah takut menjaring mimpi … apapun itu.

Jadi, saat mesin waktu ini ada, yang akan saya lakukan adalah, mengucapkan kata sandi dan empat angka yang membentuk tahun, ke satu masa, saat-saat terbaik dalam hidup saya, saat-saat menjalani hari dengan ringan, sangat ringan.

Sampai kemarin malam bayangan mesin waktu ini masih mendominasi pikiran saya. Tapi pagi ini, saya rasa saya tak lagi membutuhkan mesin waktu. Kembali ke belakang? apa enaknya. Bukankah kenikmatan itu ada ketika kita menemukan begitu banyak kejutan yang diberikan oleh hidup, setiap harinya. Memang tidak semua kejutan meninggalkan bekas yang manis, beberapa bahkan datang dengan torehan getir dan episode biru. Tapi, bukankah di situ letak seninya hidup? Kejutan, perubahan, tumbuh, dari hari ke hari.

Jadi, bukan, bukan mesin waktu yang sekarang saya butuhkan, tapi semangkuk es cendol. Yup. Setelah itu, saya akan berbisik pelan, untuk diri saya sendiri, “nggak papa kok, semua akan selesai, dan kembali baik. Pasti.”

* untuk teman programmer : terima kasih. meski tak membantu tapi lumayan lah. halah. hehehehehe. dan hai, meski tanpa mesin waktu, kamu bisa menghadirkan perasaan tenteram seperti yang dibawa nenek kapan pun kamu mau.

Apa yang sebenarnya Kucari .....

Mungkin aku akan menambah daftar orang-orang yang tak bisa menikmati malamnya dengan baik. Tidur menjadi sesuatu yang rasanya sulit di lakukan. Aku mulai tak menikmati binar cahaya terakhir yang mengantar katupan kelopak mataku.

Ada banyak hal yang ingin kusampaikan pada malam, hingga waktu terasa tak cukup untuk memberi ruang pada kata-kata yang bicara. Ya, malam telah menjadi teman bercerita yang tak pernah meminta penjelasan apa-apa. Tak membuat kita mencari-cari alasan untuk membenarkan apa yang telah dilakukan.
Itulah malam, mungkin karena itu pula aku merasa nyaman untuk mengikuti perjalanannya yang panjang. Meski aku merasa bersalah pada mata yang terpaksa harus berbagi ruang dengan kantung di bawahnya, khas mata orang kurang tidur.

Apa aku merasa nyaman ? Ini yang sebenarnya menjadi pertanyaan. Tidak, pada satu sisi. Rasa itu datang saat aku merasa tubuhku benar-benar lelah, kejam rasanya membiarkan wadah hidup ini terus bekarja tanpa sedikitpun mendengarkan jeritannya. Tapi, ada hal-hal tertentu yang tak bisa dipaksakan, pikiran yang tak mau diajak pasrah terkapar di atas pembaringan, misalnya. Dia lebih memilih untuk berada di depan kotak kaca yang membentuk gambar sebuah kertas putih dengan coretan yang dijejalkan paksa oleh jemariku yang jahil.

Di sisi lain, aku memang merasa nyaman. Malam membuatku seolah terpisah dengan dunia luar. Aku sendirian di dalam kotak bercat putih dengan berukuran beberapa meter. Satu-satunya akses ke dunia luar hanyalah sekeping jalinan kayu yang disebut pintu, itupun tertutup rapat. Inilah waktu dimana aku merasa memilikiku, duniaku, aturanku dan kesendirianku yang takkan dapat dipersembahkan siang.

Saat sendiri inilah, aku dapat merasakan keberadaanku dalam kenangan yang kadang kubuat tanpa sengaja. Siang tadi, entah apa yang kupikirkan lalu kuperbuat, tapi yang jelas di malam harilah aku menemukan jawabannya. Semua yang sebenarnya tak terpikirkan dan tak terbayangkan, tapi mulai kulirik ketika malam menjamahku.

Aku lelah, sekarang pun saat sedang menulis ini, tubuhku terasa lelah. Tapi pikiranku lebih lelah jika harus dikunci mati dalam aktivitas rutin malam hari yang kita beri nama tidur. Sudahlah biar saja, aku tak ingin berusaha tidur. Lagipula, segelas nescafe masih belum kandas dari gelas, musik dari cd playerku juga masih bersedia menemaniku dalam penjara malam yang terlalu ambisius untuk tidak melepaskanku ke dalam pelukan dunia mimpi.

Ya sudahlah, aku memang telah menjadi simpanan malam yang harus pasrah dicumbuinya sepanjang perjalanan rembulan. Selama aku bisa dan menikmatinya, kenapa tidak ? Malam membawa keheningan yang membuatku dapat mengertiku, bukankah itu yang kucari ? Jadi biar saja aku menjadi malam, dan malam menjadi aku.
.
.::. ilova lagi kumat .::.

dari bangku beranda

malam makin meninggi
desir angin malam kian terasa
menusuk dingin dalam jiwaku
yang sepi saat kuhilangkan lelah
dibawakan mimpi mimpi
haruskah ......
aku lepaskan semua cerita diantara kita
aku mencoba.....
tapi selalu terbayang dirimu
angin malam,
sampaikan salamku untuknya
angin malam,
terbangkan mimpiku untuknya
angin malam,
sampaikan sebait kata sayangku
.
.
.
*terimakasih cinta atas semuanya
..::..

Saya Selesai

Sesinting apapun situasi kerja di media, dan serunyam apapun rasa badanku di pucuk malam, selalu ada perasaan ‘itu’ setiap bangun pagi - perasaan hidup, eksis, berharga. Perasaan senang telah belajar suatu hal baru - meskipun untuk mencapainya terkadang rasanya sampai perlu membanting telepon ke lantai, membenturkan kepala ke dinding, atau menggelar pembantaian massal. Perasaan pasti bahwa sesulit apapun melalui hari itu, pabrik beritaku tetap bisa berproduksi dan mengantarkan lembaran-lembaran hangat dari percetakan keesokan paginya.

Ya, dulu aku memaknai pekerjaan sebagai sumber kepuasan, lahan pengembangan diri, bahkan aspek tak terpisahkan dari identitasku. Saat masuk ke tempat baru ini, aku puas dengan pengertian yang lebih luas bahwa pekerjaan itu artinya saat kita berguna bagi orang lain, dengan cara apapun.

Beralih dari pekerjaan yang super dinamis dan menantang ke sedentary office job memang bukan hal yang mudah.

Tapi hari ini, saya selesai. Secepat itu ya? sebenarnya ada masalah besar yang tak kunjung mengancik titik temu. Dan aku tak tertarik berkompromi. Dulu awalnya aku mau mencoba bertahan, lantaran masih mengantongi harapan-harapan besar di tempat ini.

Setelah mendengar bahwa aku mengundurkan diri dari kantor ini, seorang teman dari departemen sumber daya manusia mendedah pengertiannya soal kerja. Katanya, hal pokok yang dibutuhkan orang dari pekerjaan adalah finansial, kenyamanan, dan pengembangan diri. Cukup dua hal terpenuhi, maka si pekerja niscaya akan terus bertahan. Satu saja tidak terpenuhi, si pekerja akan minggat, setipis itulah jaraknya. Dan inilah tepatnya konsep yang bisa menerangkan kepergianku.

Terimakasih buat semuanya yang sudah mendukungku untuk mengembangkan sayap kecilku, dan lebih banyak terimakasih buat semuanya yang sudah mendukungku untuk angkat kaki dari sini.

Kalian benar-benar mengenalku, rupanya.

.::. BP, 01 Juli 2008, 01.30 AM .::.