tak ada yang lebih tabah
dari hujan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
.:
tak ada yang lebih bijak
dari bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
.:
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
.:
untukmu cinta : aku ingin menjadi hujan bulan juni itu
“Hujan Bulan Juni” merupakan buku berisi kumpulan sajak-sajak Sapardi Djoko Darmono.
Penerbit : PT Grasindo, 2004
.:
.: Hujan Di Bulan Juni :.
The Eagle Life
Elang merupakan jenis unggas yang mempunyai umur paling panjang didunia.Umurnya dapat mencapai 70 tahun. Tetapi untuk mencapai umur sepanjang itu seekor elang harus membuat suatu keputusan yang sangat berat pada umurnya yang ke 40.
Malamku Membisu
menyeruak desak dalam benak dan harap
bintang tertahan di balik kelambu kabut
di sini…
di batas kesadaran puncak malam
aku terduduk bersimpuh
menanti desah angin menyapa waktuku
di mana kah?
tak biasanya malamku bisu
tanpa pesan tertinggal di meja perjamuan
hanya sebuah layar terhampar
tanpa huruf tereja di atasnya
kosong
sepi
meski derai meraung di bawah kakiku
.
Entahlah
dan tak masuk dalam catatan
hampir terlampaui sia-sia berbulan lamanya
menjadi bagian dari legenda pecinta
di gulita malam kelu
ketika bulan enggan tersenyum
Hati membiru sebiru birunya biru
bukan akibat pukulan pesakit
tapi torehan cinta
menjadi bagian dari legenda pecinta
oleh gulungan waktu
ketika gemintang enggan bertebar
rasa melukis seindah tarian sang dewi
harap akan jatuhnya pendar kasih-Nya
menyelubung dalam detak nafas tak tertebak
sedemikain biru
seluas cinta para pecinta
.
Kekosongan !!!!!!
Apakah hidup itu semacam imajisme?
Pagi sampai siang tadi saya sebenarnya melakukan banyak hal. Pagi-pagi, setelah bangun tidur. Saya langsung mengejar keberangkatan kapal untuk kembali lagi ke kotaku. menjelang agak siang, saya akhirnya sampai juga di tujuan.
Dengan semua aktivitas di awal hari itu, saya sama sekali tak membayangkan akan menemui kekosongan. Tapi, di luar dugaan, ketika saya ketemu dengan sahabat saya yang paling akrab, saya justru merasai kekosongan itu. Tiba-tiba saya teringat beberapa beban, beberapa pekerjaan yang belum saya selesaikan, sambil merasa belum banyak berbuat apa-apa. Pada titik itu pula, rasa kosong muncul di hati saya. Kekosongan itu pula yang barangkali “merusak” pertemuan tadi.
Kami sempat berbicara dan sedikit berdebat tentang mau ke mana dan melakukan apa siang itu. Karena sama-sama tak menemukan ide, akhirnya kami memutuskan berpisah, dan saya langsung menuju ke kantor.
Di jalan, sembari mengendarai mobil, saya melamun dan merasai bahwa hati saya memang benar dihinggapi kekosongan. Kekosongan itu pula yang tiba-tiba saja membuat kening saya berkerut dan hari terasa jadi lebih berat.
Ketika hari menjelang sore, saya teringat pada Sapardi Djoko Damono dan sebuah puisinya yang mencerminkan “kekosongan”. Saya cari buku Sapardi di antara tumpukan buku yang ada dan kemudian membuka-buka halamannya, mencari puisi yang meruapkan “kekosongan” itu. Dan inilah puisi yang saya maksud:
Puntung rokok dan kursi bercakap tentang seseorang yang tiba-tiba menghela nafas panjang lalu berdiri.Bunga plastik dan lukisan dinding bercakap tentang seorangyang berdiri seperti bertahan terhadap sesuatu yang akan menghancurkannya.
Jam dinding dan penanggalan bercakap tentang seorang Yang mendadak membuka pintu lalu cepat-cepat pergi tanpa menutupnya kembali. Topeng, yang bergantung di dinding itu,
yang mirip wajah pembuatnya, tak berani mengucapkan sepatah kata pun;
ia merasa bayangan orang itu masih bergerak dari dinding kedinding;
ia semakin mirip pembuatnya karena sedang menahan kata-kata.
Puisi yang berjudul “Percakapan dalam Kamar” itu memang penuh dengan benda-benda: puntung rokok, kursi, bunga plastik, lukisan, jam, tanggalan, dan topeng. Tapi, semua benda itu justru tak memberikan kesan “penuh” di sana. Kesan yang timbul ketika saya merenungi puisi itu adalah “kekosongan”.
Hari ini, saya merasai diri hampir mirip dengan “seseorang” dalam sajak Sapardi tadi. Kekosongan yang tiba-tiba berkunjung sepertinya menghilangkan “emosi baik” yang saya punyai sebelumnya. Saya tiba-tiba suka melamun, dan memandang ke depan tanpa batas, tanpa tahu apa yang sebenarnya saya pandang. Cuma, alasan yang benar-benar rasional kenapa saya jadi demikian tak saya ketemukan.
Ah, jangan-jangan, terkadang hidup memang menjelma jadi semacam imajisme.
